Headlines News :
Home » » AKU INGIN SEKOLAH (bagian satu)

AKU INGIN SEKOLAH (bagian satu)

Written By dede on Sunday, January 29, 2012 | 8:20 AM


Malam sudah hampir larut, tak ada suara jangkrik, hanya suara burung hantu yang bertengger di pohon kelapa di samping sebuah gubuk yang beratap ilalang dan berlantai tanah, dindingnya yang terbuat dari bambu itu sudah hampir lapuk, di dalam gubuk tersebut menyala sebuah lampu minyak yang sudah hampir redup. Sesekali terdengar derap kaki anjing liar yang berkejaran di belakang gubuk tersebut.
“Kamu belum tidur?” terdengar suara seorang perempuan tua disambut suara batuknya yang dalam.
“Sebentar lagi, Nek.” Jawab seorang gadis kecil yang masih duduk di atas sajadah di samping lampu minyak yang sudah hampir padam nyalanya, ia masih mengenakan mukena, sebab sejak sehabis sholat isya tadi ia tidak berajak dari tempat duduknya. Di tangannya masih tergenggam sebuah foto ukuran 2 x 3 cm yang menempel di Kartu Tanda Penduduk yang telah lama habis masa berlakunya, hanya itu satu-satunya foto yang ditinggalkan ibunya, Seorang perempuan muda yang baru seminggu meninggal dunia akibat penyakit TBC yang dideritanya.
Sofia, gadis kecil itu masih memandangi foto di tangannya dengan mata yang sembab, fikirannya jauh melayang. Ia ingat ketika ibunya membelai rambutnya yang hampir pirang karena panas matahari sebab setiap hari harus membantu ibunya  mencari rumput untuk kambingnya, seekor kambing betina yang gemuk, satu-satunya aset yang dimiliki anak beranak itu selain gubuk kecil tempat mereka berteduh saat hujan. Ia ingat ketika itu ibunya berkata dengan lembut padanya: “Anakku, ibu ingin suatu hari nanti melihat kamu masuk sekolah, kamu harus pintar, kamu harus jadi orang. Tapi saat ini ibu belum punya uang yang cukup untuk menyekolahkanmu, nanti kalau kambing kita ini sudah beranak, ibu pasti akan membelikan baju seragam dan buku tulis yang bagus untuk kamu, kambingnya akan kita jual.”
Kini kambing itu telah terjual, tapi bukan untuk membeli pakaian seragam atau buku sekolah untuk Sofia, tapi untuk biaya tahlilan ibunya. “Ya, Allah. Ampunilah dosaku dan dosa orang tuaku, terimalah ibu di sisi-Mu, tempatkan ia di surga-Mu”. Sofia berdiri sambil menengok ke wajah neneknya yang sudah tertidur pulas, ia membenahi sajadah dan melipat mukenanya, serta memperbaiki selimut neneknya. Direbahkannya tubuhnya di samping neneknya, ia masih belum bisa memejamkan matanya. Dari kejauhan terdengar kokok ayam tetangga, pertanda pagi hampir menjelang.

***


Share this article :

0 komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

 
Copyright © 2011. Diagram Band - All Rights Reserved